Rabu, 09 Oktober 2013

Kau dan Andromeda

Sekali lagi aku menatap bintang sembari memandangi sebuah lembaran foto. Wajahnya yang meneduhkan hati. Membuat tenang seperti menatap bintang. Dia. Ya lelaki itu. Dia selalu saja begitu, membiarkanku merindu dalam kesepian, membuatku seperti ini, menulis semua tentangnya. Dia memang berhasil membuatku menjadi seorang penulis. Berhasil membuatku menciptakan sebuah buku yang hanya berisi tentangnya.

Dalam diampun aku masih ternyum sendiri selalu membayangkan tingkahnya, senyuman andalannya, dan...... Argghh!! Lelaki itu memang selalu bisa membuatku seperti ini. Begitulah dia. Selalu mempunyai cara membuatku merasa merindu.

Dan sekali lagi aku masih menatap Andromeda. Rasi bintang yang sangat terang. Cahayanya mampu meredakan rinduku, seakan mampu mendengarkan ceritaku tentang dia. Dan sekarang seakan Andromeda sedang mengukir senyum manisnya padaku. Seperti saat dia tersenyum manis padaku.

Dia benar-benar mirip seperti Andromeda!

Minggu, 18 Agustus 2013

Ketika Hujan Turun



Jantungku mulai berdegup sangat cepat. Bagaimana tidak? Aku berjalan bersamanya dibawah payung yang sama.
Apa ini? Mengapa hanya menatap matanya saja aku seperti membatu

Awan bergulung dilangit kota, siang itu. membuat hawa panas kota menjadi teduh. Bunyi bergemuruh bergema dari langit. Aku berjalan menuju halte bus terdekat. Tak lama setibanya dihalte bus aku duduk dibesi panjang dihalte bus itu. Aroma sedap tanah bercampur air hujan menyusuri indra penciumanku. Sesekali aku mengedarkan pandanganku ke sekitar. Aku tersadar bahwa ada sosok pria yang duduk dibangku yang kutempati juga. Tampak ia sedang mendengarkan lagu dari gadget  melalui earphone nya. Lelaki itu memejamkan matanya. Tertidurkah ia? Tidak, ia hanya menikmatai lagu yang ia dengarkan. Aku tersadar ketika lelaki itu beranjak pergi meninggalkan halte bus dan segera memasuki bus reyot. Ohh tidak, ternyata aku terlampau lama memperhatikannya.
Saat itulah pertama kali aku melihat lelaki itu, dan saat itu rintik hujanpun turun membasahi bumi.
------
Saat pelajaran sekolahku usai. Aku merogoh – rogoh tasku mencari sesuatu yang sekarang benar-benar aku butuhkan, tapi hasilnya nihil. “astaga bagaimana aku bisa aku melupakannya!”  ucapku geram. Orang-orang berlalu lalang didepanku, mereka beranjak pulang. Keadaan disekitarku semakin sepi. Dan saat aku benar-benar membutuhkan bantuan lelaki itu (lelaki yang kemarin aku temui di halte bus) datang menawariku tumpangan payung. Aneh, jantungku mulai berdegup sangat cepat, bagaimana tidak? Aku berjalan bersamanya dibawah payung yang sama. Dan sekarang aku bisa menatap mata indahnya. Apa ini? Mengapa hanya menatap matanya saha aku seperti membatu. Tatapannya sangat tajam. Aku selalu ingin berjalan bersama orang yang aku sayang dibawah payung yang sama…… suatu saat nanti.
Dan apakah orang itu dia?
Entahlah……
Dan saat itu hujan turun lagi membawa sebuah cerita

-------

Setelah kejadian itu aku dan dia sudah sangatlah dekat. Dan aku mempunyai sedikit harapan. Dan saat itu saat kita tengah asyik menikmati hujan turun. Tiba-tiba seorang wanita asing datang dan mengaku sebagai kekasihnya. Rasanya aku baru saja terbang tinggi dan tiba-tiba kau menjatuhkanku.  Seketika beribu-ribu jarum menusukku. Rasa sakit yang sangat dahsyat menghantamku. Saat itu juga air mata ini ingin meluap seketika, aku ingin menangis sejadi-jadinya. Tapi niat ku untuk menangis ku urungkan. Yang benar saja? Untuk apa aku menangisinya sedang ia tak pernah menjadi milikku. Aku tak ingin bersikap bodoh didepannya.. Apakah aku sudah benar-benar jatuh hati padanya? Sepertinya iya. Aku tlah menyimpan perasaan padanya bukan perasaan kagum diawal aku melihatnya. Saat kau ingin pergi bersamanya dan meninggalkan ku sendiri ditempat itu. kau bilang bahwa besok kau akan datang menemui ku lagi, tapi entah mengapa bahwa ‘besok’ itu tak kan pernah ada
Dan sekarang rintik hujanpun turun berangsur-angsur membasahi bumi.

-------

Aku kembali mengedarkan pandanganku ke sekitarku. Mencari sesosok lelaki itu, berharap bahwa dia ada disana. Tapi itu Cuma harapanku saja. Lelaki itu sudah tak ada, tak ada lagi dia yang duduk menikmati hujan sembari mendengarkan lagu. tak ada lagi dia yang menawariku payung. tak ada lagi dia yang selalu menikmati hujan bersamaku. Aku tersadar, kemarin hanyalah kebahagiaan sesat yang Tuhan berikan padaku. Ya hanya sesaat. Mengingat kejadian itu buliran air mata jatuh (lagi) membasahi kedua pipiku. Entah sudah yang keberapa kali aku menangis untuknya.
Entah mengapa aku merasa kehilangan. Ini bukan seperti aku merasa  kehilangan payungku. Ini beda. Aku merasakan ada sesuatu yang hilang dariku. Sesuatu yang seperti dirampas secara paksa. Sosok yang begitu special. Cintakah?
Aku tak pernah memilikinya tapi aku begitu kehilangan dirinya. Wajarkah itu?
Sepertinya aku harus melupakan bayangnya. Menikmati hujan sendiri dan berjalan dibawah payung sendiri (lagi) seperti sebelum lelaki itu masuk dalam kehidupanku.
Dan kali ini hujan turun membawa kisah yang berbeda.

Sabtu, 20 Juli 2013

Surat ke 17



Hey… pasti kau sudah sangat bosan ya membaca surat dariku, seharusnya aku tahu bahwa kau sangat tidak menyukai surat dariku. Maaf! Karena aku tlah mengganggu hari-harimu, maaf karena aku selalu membuatmu bosan dengan suratku, maaf karena sudah menjadi parasit untuk mu. Maaf untuk semuanya.

Dan seharusnya aku sadar bahwa kau tak pernah memiliki perasaan yang sama sepertiku. Yasudahlah! Ini salahku yang terlanjur menyukai dirimu. Ohiya sekarang kau tak perlu khawatir lagi karena aku tak akan mengirimu surat (lagi) karena aku juga pun sudah sangatlah bosan. Iya. Bosan menjadi parasit bagimu. Setiap hari aku selalu mengirimi surat tapi kau tak pernah membalas suratku, jangankan membalas membaca saja kau tak pernah, apa karena kau merasa jijik denganku sebab aku menyukai dirimu? Maaf! Karena tlah menyukai dirimu. Jika saja aku tahu seperti ini aku pun tak kan rela membiarkan hati ini memilih dirimu.
Kau membuatku menyukai dirimu dan kau jugalah yang membuatku bosan dengan perasaan ini. Ah sudahlah! Sudah cukup aku bertele-tele disini. Langsung to the point aja lah ya! Intinya sekarang kau tak perlu jenuh lagi karena aku tak kan mengirimu surat lagi ini mungkin surat yang terakhir dariku. Apakah sekarang senang? Ya. Tentu saja kau senang, kalau begitu akupun ikut senang karena aku tak perlu mengahbiskan tenaga ku untuk menulis surat (lagi).

Bahagiakah kau sekarang? Ya, tentu saja kau bahagia karna tak ada lagi yang menjadi parasit buatmu. Bukankah begitu?

Ohya, kau hitung tidak sudah berapa kali aku mengirimi mu surat? Huuh!! Aku memang bodoh. Mana mungkin kau menghitungnya, surat yang slalu kukirimi untukmu kan slalu kau membuangnya, bukan begitu? Kalau kau tidak tahu, aku akan memberi tahumu. Ini adalah surat ke 17 ku untukmu. 17 adalah tanggal dimana pertama kali aku melihatmu waktu aku tak sengaja menabrakmu disebuah perpustakaan. Ingat tidak? Yasudahlah tak usah dipikirkan. Aku berharap kau akan membaca surat ini, dan mungkin saja tiba-tiba kau ingin mengenalku. Yah tapi itu Cuma sebuah harapan kosong ku saja.

Jika kau benar-benar ingin mengenalku, datang saja ke perpustakaan yang sering kau datangi itu. Aku selalu berada disana, karena aku selalu menunggumu J

Dan sekarang bisakah aku mengakhiri pesan ini? Karena tampaknya jariku juga sudah sangat lelah sepertinya dia butuh istrahat. 

Your secret admirer J

Selasa, 16 Juli 2013

Cinta 3 Detik




1…2…3 yap hanya dalam 3 detik aku merasakan sesuatu yang aneh seperti getaran yang sangat dahsyat seakan tak ingin berenti.  Hanya dengan menatap matanya dalam 3 detik ia mampu membuat tubuh ini lemas, lunglai terbuai dalam tatapannya. Seperti sihir dengan 3 detik dia mampu membuat ku terpaku, membisu. Tidak! Itu memang sihir. Ya sihir cinta. Entah mantra apa yang sebenarnya ia bisikan padaku sehingga membuat bayangnya selalu mengitari isi kepalaku. Apakah aku telah jatuh hati padanya? Ya  aku memang telah, telah, dan telah jatuh hati padanya.

Betapa gilanya aku, sampai2 aku mencari tahu semua tentang dirimu. Wah betapa hebatnya dirimu ya! Mampu membuatku begitu tergila akan dirimu. Sungguh, sulit untuk kujelaskan bahwa sebenarnya aku telah jatuh hati padamu semenjak itu, disaat pertama kali aku bertemu denganmu di gazebo tempat favoritmu. Aku ingat itu, dan sampai sekarang pun aku tak kan melupakan suatu kejadian yang dimana kau mulai memantrai ku dengan cinta 3 detik mu itu. mana mungkin kau mengingatku, waktu itu kau hanya menganggapku bagai angina lalu. Betapa sombongnya dirimu, tapi itu yang membuatku tertarik akan dirimu.

Ahhh sudahlah! Sungguh menyebalkan jika harus membahas tentang cinta, karena itu selalu mengingatkanku betapa buruknya diriku yang slalu tergila-gila padamu. Cinta itu menjijikan!

Ohya, aku lupa! Terimakasih atas mantra 3 detik mu itu, itu sungguh mengesankan tapi menyebalkan. Lain kali, kalau kau ingin memantrai ku jangan hanya dalam 3 detik karena itu sangat sebentar.

Aku akan menunggu kau datang dan menyihirku dengan sihir cintamu, oke?! J

Senin, 17 Juni 2013

Kau mencintaiku dan mencintai wanita itu juga



Marah? Ya tentu saja aku marah. Siapa yang tidak marah jika kekasihnya masih saja berhubungan dengan mantannya. Kau pikir aku manusia yang begitu bodoh sehingga kau dengan mudahnya membohongiku. Mungkin pemikiranmu benar. Aku memang wanita yang bodoh, terlalu bodoh untuk mencintaimu. Tapi aku tak pernah menyesal tlah mencintaimu walau sesering apapun kau melukai hatiku tak pernah sedikitpun merubah persaanku padamu.

Coba kau buka matamu dan lihatlah kesamping, bahwa ada aku. Ada aku yang selalu berdiri disampingmu. Ada aku yang selalu mensejajarkan langkah kakiku tuk melangkah bersamamu. Ada aku yang selalu dan selalu bersamamu dalam suka maupun duka, tapi mengapa kau masih saja berhubungan dengan wanita itu? Apakah kau masih mencintainya? Tolong kau jawab pertanyaanku! Kau tahu bukan bahwa dia sangatlah bodoh. Sangat bodoh karena tlah mencampakkan mu demi pria lain. Dan sekarang dengan seenaknya saja wanita itu datang dan ingin merebutmu dariku. Padahal ia tahu bahwa kau sekarang adalah milikku. Hanya wanita yang tak tahu malu yang bisa melakukan itu! Dan bahkan sekarang, kau juga ikut bersekongkol dengannya untuk menghancurkan hatiku secara perlahan-lahan. Kau bilang padaku bahwa kau mencintaiku, apakah kau mengatakan hal yang sama pada dirinya, bahwa kau juga mencintainya? Jika tidak mengapa kau masih berhubungan dengannya? Ha? Jawab aku?! Sebenarnya sandiwara apa yang sedang kau mainkan? Aku mohon hentikanlah semua sandiwara ini.

Sayang dengarlah disini kau punya aku. Aku janji takkan mengkhinatimu dan bahkan mencampakkanmu. Aku hanya ingin kau tinggalkan dia. Lupakan dia! Kita akan melangkah bersama dengan sebuah tawa kebahagiaan yang tercipta di antara kita.

Dan untuk kau! Pembius apa yang kau berikan pada kekasihku sehingga dia masih saja memikirkanmu? Kau begitu jahat! Sangat jahat! Kau tlah melukai 2 hati sekaligus. Kau melukai perasaanku dan kekasihmu. Apakah kau tak pernah memikirkan perasaan kekasihmu? Coba buka matamu dan lihatlah bahwa ada seseorang yang sangat mencintaimu selain kekasihku. Kumohon lupakan dia (kekasihku). Ayo berdamailah bersamaku. Biarkan dia menjadi milikku seutuhnya. Dan biarkan aku dan dia tersenyum bahagia tanpa ada yang menghalangi.



Suci Delara