Minggu, 18 Agustus 2013

Ketika Hujan Turun



Jantungku mulai berdegup sangat cepat. Bagaimana tidak? Aku berjalan bersamanya dibawah payung yang sama.
Apa ini? Mengapa hanya menatap matanya saja aku seperti membatu

Awan bergulung dilangit kota, siang itu. membuat hawa panas kota menjadi teduh. Bunyi bergemuruh bergema dari langit. Aku berjalan menuju halte bus terdekat. Tak lama setibanya dihalte bus aku duduk dibesi panjang dihalte bus itu. Aroma sedap tanah bercampur air hujan menyusuri indra penciumanku. Sesekali aku mengedarkan pandanganku ke sekitar. Aku tersadar bahwa ada sosok pria yang duduk dibangku yang kutempati juga. Tampak ia sedang mendengarkan lagu dari gadget  melalui earphone nya. Lelaki itu memejamkan matanya. Tertidurkah ia? Tidak, ia hanya menikmatai lagu yang ia dengarkan. Aku tersadar ketika lelaki itu beranjak pergi meninggalkan halte bus dan segera memasuki bus reyot. Ohh tidak, ternyata aku terlampau lama memperhatikannya.
Saat itulah pertama kali aku melihat lelaki itu, dan saat itu rintik hujanpun turun membasahi bumi.
------
Saat pelajaran sekolahku usai. Aku merogoh – rogoh tasku mencari sesuatu yang sekarang benar-benar aku butuhkan, tapi hasilnya nihil. “astaga bagaimana aku bisa aku melupakannya!”  ucapku geram. Orang-orang berlalu lalang didepanku, mereka beranjak pulang. Keadaan disekitarku semakin sepi. Dan saat aku benar-benar membutuhkan bantuan lelaki itu (lelaki yang kemarin aku temui di halte bus) datang menawariku tumpangan payung. Aneh, jantungku mulai berdegup sangat cepat, bagaimana tidak? Aku berjalan bersamanya dibawah payung yang sama. Dan sekarang aku bisa menatap mata indahnya. Apa ini? Mengapa hanya menatap matanya saha aku seperti membatu. Tatapannya sangat tajam. Aku selalu ingin berjalan bersama orang yang aku sayang dibawah payung yang sama…… suatu saat nanti.
Dan apakah orang itu dia?
Entahlah……
Dan saat itu hujan turun lagi membawa sebuah cerita

-------

Setelah kejadian itu aku dan dia sudah sangatlah dekat. Dan aku mempunyai sedikit harapan. Dan saat itu saat kita tengah asyik menikmati hujan turun. Tiba-tiba seorang wanita asing datang dan mengaku sebagai kekasihnya. Rasanya aku baru saja terbang tinggi dan tiba-tiba kau menjatuhkanku.  Seketika beribu-ribu jarum menusukku. Rasa sakit yang sangat dahsyat menghantamku. Saat itu juga air mata ini ingin meluap seketika, aku ingin menangis sejadi-jadinya. Tapi niat ku untuk menangis ku urungkan. Yang benar saja? Untuk apa aku menangisinya sedang ia tak pernah menjadi milikku. Aku tak ingin bersikap bodoh didepannya.. Apakah aku sudah benar-benar jatuh hati padanya? Sepertinya iya. Aku tlah menyimpan perasaan padanya bukan perasaan kagum diawal aku melihatnya. Saat kau ingin pergi bersamanya dan meninggalkan ku sendiri ditempat itu. kau bilang bahwa besok kau akan datang menemui ku lagi, tapi entah mengapa bahwa ‘besok’ itu tak kan pernah ada
Dan sekarang rintik hujanpun turun berangsur-angsur membasahi bumi.

-------

Aku kembali mengedarkan pandanganku ke sekitarku. Mencari sesosok lelaki itu, berharap bahwa dia ada disana. Tapi itu Cuma harapanku saja. Lelaki itu sudah tak ada, tak ada lagi dia yang duduk menikmati hujan sembari mendengarkan lagu. tak ada lagi dia yang menawariku payung. tak ada lagi dia yang selalu menikmati hujan bersamaku. Aku tersadar, kemarin hanyalah kebahagiaan sesat yang Tuhan berikan padaku. Ya hanya sesaat. Mengingat kejadian itu buliran air mata jatuh (lagi) membasahi kedua pipiku. Entah sudah yang keberapa kali aku menangis untuknya.
Entah mengapa aku merasa kehilangan. Ini bukan seperti aku merasa  kehilangan payungku. Ini beda. Aku merasakan ada sesuatu yang hilang dariku. Sesuatu yang seperti dirampas secara paksa. Sosok yang begitu special. Cintakah?
Aku tak pernah memilikinya tapi aku begitu kehilangan dirinya. Wajarkah itu?
Sepertinya aku harus melupakan bayangnya. Menikmati hujan sendiri dan berjalan dibawah payung sendiri (lagi) seperti sebelum lelaki itu masuk dalam kehidupanku.
Dan kali ini hujan turun membawa kisah yang berbeda.