Jantungku mulai berdegup sangat cepat.
Bagaimana tidak? Aku berjalan bersamanya dibawah payung yang sama.
Apa ini? Mengapa hanya menatap matanya saja aku seperti membatu
Apa ini? Mengapa hanya menatap matanya saja aku seperti membatu
Awan bergulung dilangit kota,
siang itu. membuat hawa panas kota menjadi teduh. Bunyi bergemuruh bergema dari
langit. Aku berjalan menuju halte bus terdekat. Tak lama setibanya dihalte bus
aku duduk dibesi panjang dihalte bus itu. Aroma sedap tanah bercampur air hujan
menyusuri indra penciumanku. Sesekali aku mengedarkan pandanganku ke sekitar.
Aku tersadar bahwa ada sosok pria yang duduk dibangku yang kutempati juga.
Tampak ia sedang mendengarkan lagu dari gadget
melalui earphone nya. Lelaki itu memejamkan matanya. Tertidurkah ia? Tidak,
ia hanya menikmatai lagu yang ia dengarkan. Aku tersadar ketika lelaki itu
beranjak pergi meninggalkan halte bus dan segera memasuki bus reyot. Ohh tidak,
ternyata aku terlampau lama memperhatikannya.
Saat itulah pertama kali aku melihat lelaki itu, dan saat itu rintik hujanpun turun membasahi bumi.
Saat itulah pertama kali aku melihat lelaki itu, dan saat itu rintik hujanpun turun membasahi bumi.
------
Saat pelajaran sekolahku usai.
Aku merogoh – rogoh tasku mencari sesuatu yang sekarang benar-benar aku
butuhkan, tapi hasilnya nihil. “astaga bagaimana
aku bisa aku melupakannya!” ucapku
geram. Orang-orang berlalu lalang didepanku, mereka beranjak pulang. Keadaan
disekitarku semakin sepi. Dan saat aku benar-benar membutuhkan bantuan lelaki
itu (lelaki yang kemarin aku temui di halte bus) datang menawariku tumpangan
payung. Aneh, jantungku mulai berdegup sangat cepat, bagaimana tidak? Aku
berjalan bersamanya dibawah payung yang sama. Dan sekarang aku bisa menatap
mata indahnya. Apa ini? Mengapa hanya menatap matanya saha aku seperti membatu.
Tatapannya sangat tajam. Aku selalu ingin berjalan bersama orang yang aku
sayang dibawah payung yang sama…… suatu saat nanti.
Dan apakah orang itu dia?
Entahlah……
Dan saat itu hujan turun lagi membawa sebuah cerita
Dan apakah orang itu dia?
Entahlah……
Dan saat itu hujan turun lagi membawa sebuah cerita
-------
Setelah kejadian itu aku dan dia
sudah sangatlah dekat. Dan aku mempunyai sedikit harapan. Dan saat itu saat
kita tengah asyik menikmati hujan turun. Tiba-tiba seorang wanita asing datang
dan mengaku sebagai kekasihnya. Rasanya aku baru saja terbang tinggi dan
tiba-tiba kau menjatuhkanku. Seketika
beribu-ribu jarum menusukku. Rasa sakit yang sangat dahsyat menghantamku. Saat
itu juga air mata ini ingin meluap seketika, aku ingin menangis sejadi-jadinya.
Tapi niat ku untuk menangis ku urungkan. Yang benar saja? Untuk apa aku
menangisinya sedang ia tak pernah menjadi milikku. Aku tak ingin bersikap bodoh
didepannya.. Apakah aku sudah benar-benar jatuh hati padanya? Sepertinya iya.
Aku tlah menyimpan perasaan padanya bukan perasaan kagum diawal aku melihatnya.
Saat kau ingin pergi bersamanya dan meninggalkan ku sendiri ditempat itu. kau
bilang bahwa besok kau akan datang menemui ku lagi, tapi entah mengapa bahwa
‘besok’ itu tak kan pernah ada
Dan sekarang rintik hujanpun turun berangsur-angsur membasahi bumi.
Dan sekarang rintik hujanpun turun berangsur-angsur membasahi bumi.
-------
Aku kembali mengedarkan
pandanganku ke sekitarku. Mencari sesosok lelaki itu, berharap bahwa dia ada
disana. Tapi itu Cuma harapanku saja. Lelaki itu sudah tak ada, tak ada lagi
dia yang duduk menikmati hujan sembari mendengarkan lagu. tak ada lagi dia yang
menawariku payung. tak ada lagi dia yang selalu menikmati hujan bersamaku. Aku
tersadar, kemarin hanyalah kebahagiaan sesat yang Tuhan berikan padaku. Ya
hanya sesaat. Mengingat kejadian itu buliran air mata jatuh (lagi) membasahi
kedua pipiku. Entah sudah yang keberapa kali aku menangis untuknya.
Entah mengapa aku merasa
kehilangan. Ini bukan seperti aku merasa
kehilangan payungku. Ini beda. Aku merasakan ada sesuatu yang hilang
dariku. Sesuatu yang seperti dirampas secara paksa. Sosok yang begitu special.
Cintakah?
Aku tak pernah memilikinya tapi aku begitu kehilangan dirinya. Wajarkah itu?
Sepertinya aku harus melupakan bayangnya. Menikmati hujan sendiri dan berjalan dibawah payung sendiri (lagi) seperti sebelum lelaki itu masuk dalam kehidupanku.
Dan kali ini hujan turun membawa kisah yang berbeda.
Aku tak pernah memilikinya tapi aku begitu kehilangan dirinya. Wajarkah itu?
Sepertinya aku harus melupakan bayangnya. Menikmati hujan sendiri dan berjalan dibawah payung sendiri (lagi) seperti sebelum lelaki itu masuk dalam kehidupanku.
Dan kali ini hujan turun membawa kisah yang berbeda.
